Istilah iftar kerap terdengar saat bulan puasa tiba. Kata ini sering muncul dalam undangan makan bersama maupun percakapan tentang Ramadhan.
Namun, apa itu iftar sebenarnya? Apakah sama dengan berbuka puasa seperti yang biasa kamu lakukan setiap hari?
Yuk, simak lebih lanjut untuk mengetahui arti, keutamaan, dan tradisi iftar, terutama di Tanah Suci.
Apa Itu Iftar?
Secara harfiah, kata iftar berasal dari bahasa Arab (إفطار) yang berarti “buka puasa”. Dalam syariat Islam, iftar adalah ibadah untuk mengakhiri puasa segera setelah matahari terbenam, yang ditandai dengan kumandang adzan Maghrib.
Baca Juga: Panduan Sholat Tarawih di Masjidil Haram 2026: Jumlah Rakaat, Jadwal, dan Tips Nyaman Beribadah
Meski di Indonesia kita lebih akrab dengan istilah “buka puasa”, kata iftar kini makin populer digunakan, baik dalam konteks formal, undangan acara, maupun menu spesial di hotel dan restoran.
Jadi, jawabannya: ya, iftar dan buka puasa memang merujuk pada hal yang sama, hanya berbeda dalam penyebutan.
Keutamaan Iftar
Buka puasa bukan sekadar momen melepas lapar dan dahaga. Dalam Islam, iftar memiliki banyak keutamaan yang membuat setiap detiknya istimewa. Berikut beberapa di antaranya:
1. Waktu Mustajab untuk Berdoa
Saat menjelang dan ketika berbuka, memanjatkan doa sangat dianjurkan karena termasuk waktu mustajab. Inilah kesempatan emas untuk memanjatkan syukur, memohon ampunan, dan memohon kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain.
2. Mendapatkan Dua Kebahagiaan
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang berpuasa merasakan dua kebahagiaan, yaitu satu saat ia berbuka, dan satu lagi ketika bertemu Tuhannya kelak.
Rasa puas setelah seharian menahan lapar dan haus, dipadu dengan rasa syukur yang tulus, membuat momen berbuka menjadi begitu membahagiakan.
3. Pahala Menyegerakan Berbuka
Disunnahkan untuk segera berbuka begitu adzan Maghrib berkumandang. Menunda berbuka tanpa alasan tidak dianjurkan. Menyegerakan iftar memberi pahala tambahan dan membuat puasa lebih berkah.
4. Keberkahan Memberi Makan Orang Lain
Memberikan hidangan iftar kepada orang yang berpuasa memberi pahala yang sama seperti orang yang berpuasa itu sendiri. Dengan berbagi, kita menebar kebaikan sekaligus merasakan kebahagiaan ganda bagi diri sendiri dan orang lain.
5. Momen Syukur dan Refleksi Spiritual
Iftar juga menjadi waktu untuk merenungkan amalan sepanjang hari dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Menikmati berbuka dengan kesadaran spiritual membuat setiap suapan terasa bermakna, bukan sekadar mengisi perut.
6. Mempererat Kebersamaan dan Ukhuwah
Berbuka bersama keluarga, teman, atau orang lain memperkuat ukhuwah dan rasa persaudaraan. Duduk berdampingan, saling menyapa, dan berbagi hidangan membuat momen iftar terasa hangat, harmonis, dan penuh kebersamaan.
7. Mengajarkan Kesabaran dan Disiplin
Menahan lapar dan haus sepanjang hari, lalu berbuka dengan rasa syukur, mengajarkan kedisiplinan dan kesabaran. Iftar menjadi pengingat pentingnya kontrol diri dan kesadaran spiritual dalam menjalani puasa.
Suasana Iftar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Jika di Indonesia kita mengenal “War Takjil”, di Tanah Suci kita akan melihat “War Kebaikan”. Ribuan orang berlomba-lomba menjamu para jamaah dengan sukacita.
1. “Sufrah” yang Membentang Sepanjang Mata Memandang
Beberapa jam sebelum adzan Maghrib, petugas dan sukarelawan mulai membentangkan sufrah, alas makan yang panjangnya bisa mencapai kilometeran di dalam maupun di pelataran masjid.
Di atasnya sudah tersaji hidangan iftar standar seperti kurma premium (Ajwa atau Sukkari), air Zamzam, roti gandum dengan duqqa, dan yoghurt yang membantu pencernaan.
2. Tradisi Berebut Menjamu Tamu Allah
Di Madinah, penduduk lokal dengan ramah mengajak jamaah duduk di sufrah keluarga mereka. Menyajikan hidangan bagi jamaah yang berbuka dianggap kehormatan tertinggi.
Baca Juga: Apa Itu I’tikaf? Ini Pengertian, Syarat, Rukun, dan Waktu Terbaiknya
Mereka bahkan menyiapkan menu ini berbulan-bulan sebelumnya, memastikan semua tamu mendapatkan suguhan terbaik.
3. Ketertiban dalam Kerumunan Jutaan Orang
Bayangkan jutaan orang berbuka bersama, namun beberapa menit setelah adzan, area sudah bersih kembali.
Petugas dengan sigap melipat sufrah dan membersihkan sisa makanan. Sebelum iqamah Maghrib, masjid kembali suci dan rapi seolah tidak ada acara makan besar sebelumnya.
4. Keberagaman Tanpa Sekat
Di sinilah arti ukhuwah (persaudaraan) benar-benar nyata. Kamu bisa duduk di antara orang dari Afrika, Asia Tengah, Eropa, hingga Amerika.
Tanpa mengenal bahasa satu sama lain, semua saling berbagi kurma, menuangkan air Zamzam, dan tersenyum menyambut waktu berbuka.
5. Kesyahduan Adzan yang Menggetarkan
Suasana mencapai puncak saat adzan berkumandang dari menara-menara tinggi. Keheningan seketika pecah oleh suara jutaan orang yang mulai meneguk air Zamzam.
Hening, haru, dan syahdu berpadu dalam satu momen magis yang membuat setiap detik iftar terasa begitu istimewa.
Penutup
Mengetahui arti, keutamaan, dan tradisi iftar tentu membuat kita lebih menghargai setiap momen berbuka puasa.
Dari doa yang mustajab, pahala menyegerakan berbuka, hingga hangatnya kebersamaan, iftar sejatinya bukan sekadar makan setelah seharian menahan lapar dan haus.
Bayangkan jika sensasi iftar yang penuh makna itu bisa kamu rasakan langsung di pelataran Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Rasakan keberkahan dan syahdunya pengalaman spiritual yang tak terlupakan dengan menunaikan ibadah umroh di bulan Ramadhan bersama Annisa Travel.
Yuk, buat Ramadhanmu tahun ini lebih istimewa. Segera rencanakan perjalanan ibadahmu dan rasakan nikmatnya berbuka puasa di Tanah Suci.









