Selain Samarkand, Bukhara juga berada di Jalur Sutra dan dikenal sebagai kota tertua di Uzbekistan, dengan usia lebih dari 2.500 tahun.
Pada masa kejayaannya sekitar abad ke-9 hingga abad ke-13 M, Bukhara berkembang pesat sebagai pusat perdagangan sekaligus peradaban Islam di Asia Tengah.
Kota ini berperan penting dalam perkembangan budaya, ilmu pengetahuan, dan tradisi keislaman yang pengaruhnya terasa hingga kini.
Lalu, apa saja hal menakjubkan yang bisa kamu temukan di sini? Simak ulasannya di bawah ini.
Di Mana Letak Bukhara?
Bukhara terletak di bagian barat Uzbekistan, tepatnya di wilayah Bukhara Region, sekitar 440 kilometer dari Tashkent.
Kota ini berada sekitar 250 kilometer di hilir Samarkand, di sepanjang Sungai Zarafshon, dan berkembang sebagai oasis di tengah luasnya Gurun Kyzylkum.
Baca Juga: Program Wisata Halal Bersama Annisa Travel ke Berbagai Negara
Secara geografis, posisi ini menjadikan Bukhara titik persinggahan penting sejak masa lalu. Kota ini berbatasan dengan Navoi Region di bagian timur dan Khorezm Region di bagian barat laut.
Untuk mencapai Bukhara, kamu bisa menggunakan kereta api cepat dari Tashkent atau Samarkand, penerbangan domestik, maupun perjalanan darat menggunakan bus dan mobil.
Sekilas Sejarah Kota Bukhara

Asal-usul Bukhara diselimuti legenda. Epos Persia Shahnama menyebut kota ini didirikan oleh Siyavush, pangeran Persia yang kemudian menjadikan Bukhara bagian dari wilayah kekuasaannya.
Letaknya yang strategis di persimpangan Jalur Sutra membuat Bukhara berkembang pesat sebagai pusat perdagangan sejak masa kuno, meski berkali-kali ditaklukkan oleh kekuatan besar seperti Persia, Alexander Agung, hingga berbagai dinasti Asia Tengah.
Pada abad ke-7, penaklukan Arab mengubah wajah Bukhara menjadi pusat Islam. Puncak kejayaan terjadi pada abad ke-9 hingga ke-10 saat menjadi ibu kota Dinasti Samanid, periode keemasan yang juga melahirkan dan mendukung tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ferdowsi, dan Rudaki.
Namun, runtuhnya Samanid diikuti serangkaian serangan besar, termasuk kehancuran total akibat invasi Mongol di bawah Jenghis Khan pada 1220. Kebangkitan Bukhara terjadi pada abad ke-16 di bawah Dinasti Shaybanid, ketika kota ini kembali menjadi pusat keagamaan dengan ratusan masjid dan madrasah.
Memasuki abad ke-19, peran perdagangan melemah, Bukhara jatuh di bawah pengaruh Rusia, dan akhirnya Emirat Bukhara berakhir pada 1920 setelah penaklukan Bolshevik.
Sejak saat itu, Bukhara menjadi bagian dari sejarah modern Asia Tengah, dengan warisan budaya Islam dan Jalur Sutra yang masih berdiri megah dan kokoh.
Daya Tarik Utama yang Memikat Wisatawan
1. Ark of Bukhara

Ark of Bukhara merupakan salah satu simbol sejarah terpenting di kota Bukhara. Benteng kuno ini pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman para penguasa, serta mencerminkan sistem pertahanan kota pada masanya.
Kompleks Ark dibangun di atas bukit buatan dengan ketinggian sekitar 6–20 meter dan memiliki luas hampir 4 hektar. Di dalamnya terdapat bekas istana, masjid, dan museum yang kini dapat dikunjungi wisatawan.
Benteng ini dikelilingi tembok tebal setinggi hingga 20 meter dengan panjang sekitar 789 meter. Dari area Ark, kamu juga bisa menikmati panorama kota tua Bukhara dari ketinggian.
2. Po-i-Kalyan Complex

Po-i-Kalyan Complex merupakan kompleks religi Islam bersejarah yang menjadi simbol kota Bukhara dan termasuk dalam kawasan Historic Centre of Bukhara yang diakui UNESCO. Tata ruangnya berupa area terbuka yang luas, dikelilingi bangunan-bangunan ikonik.
Kompleks ini terdiri dari Kalyan Minaret (Kalon Tower), Kalyan Mosque, dan Mir-i-Arab Madrasah. Arsitekturnya menampilkan detail khas Islam Asia Tengah yang megah dan simetris, membuatnya jadi salah satu spot foto favorit wisatawan.
Hingga kini, Po-i-Kalyan Complex masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan.
3. Lyabi-Hauz Ensemble

Lyabi-Hauz Ensemble merupakan kompleks bersejarah sekaligus ruang publik utama di kawasan kota tua Bukhara.
Kawasan ini dibangun tahun 1620 di sebuah kolam besar (hauz) yang dahulu menjadi pusat kehidupan sosial, perdagangan, dan tempat beristirahat para penduduk maupun musafir.
Lyabi-Hauz dikelilingi oleh bangunan bersejarah penting, seperti Madrasah Nodir Devonbegi dengan dekorasi mosaiknya, Khanaka yang dahulu digunakan sebagai tempat kegiatan sufi, serta Madrasah Kukeldash yang termasuk salah satu madrasah terbesar di Bukhara.
Saat ini, area ini menjadi lokasi favorit wisatawan untuk bersantai dan berjalan kaki. Kehadiran kafe dan toko souvenir di sekitarnya menambah daya tarik kawasan ini.
4. Abdullah Khan Madrasah

Abdullah Khan Madrasah merupakan bangunan pendidikan Islam bersejarah yang dibangun pada tahun 1588–1590 M pada masa pemerintahan Abdullah Khan II dari Dinasti Shaybanid. Pada masanya, madrasah ini menjadi salah satu pusat pembelajaran penting di Bukhara.
Bangunan ini merupakan contoh arsitektur Islam Asia Tengah klasik dengan fasad luas yang dihiasi kubah serta ubin majolica berwarna biru, hijau, dan putih. Detail dekorasinya mencerminkan perkembangan seni dan arsitektur Islam pada akhir abad ke-16.
Abdullah Khan Madrasah merupakan bagian dari kompleks Kosh-Madrasah dan berdiri berhadapan dengan Modari-Khan Madrasah. Posisi ini menciptakan keseimbangan visual dan harmoni arsitektural yang menjadi ciri khas tata kota Bukhara Uzbekistan.
5. Chor Minor

Chor Minor merupakan bangunan bersejarah unik di Bukhara yang dikenal dengan empat menara kecil berwarna biru.
Baca Juga: Menjelajahi Registan Square: Ikon Sejarah dan Keindahan Samarkand
Bangunan ini sebenarnya berfungsi sebagai gerbang (gatehouse) dari sebuah madrasah yang dibangun pada tahun 1807 di bagian timur kawasan Old Town Bukhara.
Chor Minor dibangun atas biaya Khalif Niyazkul, seorang pedagang kaya asal Turkmenistan yang menetap di Bukhara. Keempat menaranya tidak digunakan untuk adzan, melainkan sebagai elemen dekoratif dengan bentuk dan detail yang berbeda satu sama lain.
Fasad bangunan ini terbuat dari bata dengan sentuhan gaya arsitektur khas India dibandingkan bangunan tradisional setempat.
Keunikan bentuk dan desainnya membuat Chor Minor menjadi salah satu spot foto ikonik dan menarik untuk dikunjungi wisatawan.
6. Trading Domes

Trading Domes merupakan pasar bersejarah tertutup yang dibangun pada abad ke-16 dan menjadi bagian penting dari Jalur Sutra.
Bangunan-bangunan ini berfungsi sebagai bazaar di bawah kubah besar, tempat para pedagang dan pengrajin menjual berbagai barang dagangan.
Struktur kubahnya dirancang dengan bukaan dan lorong silang yang memungkinkan sirkulasi udara serta cahaya alami masuk, sehingga aktivitas jual beli tetap nyaman.
Beberapa dome penting di kawasan ini antara lain Toqi Zargaron yang dahulu khusus perdagangan perhiasan, Tim Abdullah Khan sebagai pusat tekstil dan kain, Toqi Telpak Furushon yang dikenal sebagai pasar topi tradisional, serta Toqi Sarrofon yang dulu digunakan sebagai tempat penukaran uang.
Hingga kini, Trading Domes masih aktif dan menjadi destinasi favorit wisatawan untuk berburu souvenir khas Bukhara.
Penutup
Bukhara merupakan salah satu kota penting di Uzbekistan yang berada di Jalur Sutra. Sejarah panjangnya dalam bidang perdagangan dan ilmu pengetahuan telah mewariskan kekayaan budaya serta arsitektur yang masih terjaga.
Menjelajahi Bukhara bukan hanya tentang melihat peninggalan masa lalu, tetapi juga merasakan kehidupan kota yang tumbuh dari sejarahnya.
Dengan beragam destinasi menarik yang mudah dijangkau, Bukhara layak masuk dalam daftar perjalanan kamu saat berkunjung ke Asia Tengah.









