Melaksanakan tawaf adalah momen sakral bagi setiap jamaah haji maupun umroh. Ibadah ini dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 putaran berlawanan arah jarum jam.
Tapi, pernahkah kamu berpikir apa makna tawaf 7 putaran tersebut? Dan mengapa gerakannya harus berlawanan arah jarum jam?
Yuk, kita selami rahasia spiritual di balik putaran suci ini supaya setiap langkah tawafmu terasa lebih bermakna!
Mengenal Tata Cara Tawaf: Dari Mana Kita Memulai?
Sebelum menyelami makna tawaf 7 putaran, penting untuk memahami aturan dan adab dalam pelaksanaannya agar ibadah kita sah dan tertib:
Baca Juga: Jadwal Keberangkatan Umroh dari Januari hingga Desember
- Titik Awal (Starting Point): Tawaf selalu dimulai dan diakhiri sejajar dengan Hajar Aswad. Kamu bisa menandai awal putaran dengan melihat lampu hijau di dinding Masjidil Haram atau melakukan istilam (melambai) ke arah Hajar Aswad sambil mengucap “Bismillahi Allahu Akbar”.
- Posisi Ka’bah: Pastikan Ka’bah selalu berada di sebelah kiri kamu selama berputar. Posisi inilah yang secara otomatis membuat gerakan kita berlawanan arah jarum jam.
- Ritme Langkah:
- Lari-lari Kecil: Disunnahkan pada 3 putaran pertama khusus bagi laki-laki (pada Tawaf Qudum atau Umroh), sebagai simbol semangat dan kekuatan fisik.
- Jalan Biasa: Pada 4 putaran sisanya, jamaah berjalan dengan langkah tenang, stabil, dan penuh kekhusyukan.
- Menjaga Wudhu: Tawaf adalah ibadah yang mulia. Pastikan kamu dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar, sama seperti saat hendak mendirikan sholat.

Kenapa Tawaf Dilakukan 7 Putaran? Ini Makna dan Penjelasannya
Tawaf dilakukan sebanyak tujuh putaran karena itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dan tercantum dalam Sahih Bukhari serta Sahih Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali saat melaksanakan haji dan umroh.
Artinya, jumlah tujuh tersebut merupakan tuntunan langsung dari Rasulullah SAW. Umat Islam menjalankannya sebagai bentuk ketaatan.
Dalam ibadah, terdapat aspek yang bersifat ta’abbudi, yaitu dijalankan karena perintah Allah dan tuntunan Rasul-Nya, meskipun hikmah detailnya tidak selalu dijelaskan secara rinci.
Namun dibalik ketetapan itu, kamu juga bisa merenungkan maknanya.
Angka tujuh memang sering muncul dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menyebut tentang tujuh langit dan tujuh lapis bumi sebagaimana disebut dalam Surah At-Talaq ayat 12.
Disebut pula bahwa neraka memiliki tujuh pintu. Selain itu, Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap sholat terdiri dari tujuh ayat, dan kehidupan manusia berjalan dalam siklus tujuh hari dalam sepekan.
Baca Juga: Doa Sa’i: Bacaan dan Panduan Lengkap
Karena kemunculannya yang berulang dalam berbagai konteks, sebagian ulama memaknai angka tujuh sebagai simbol kesempurnaan dan keluasan.
Dalam tawaf, tujuh putaran bisa kamu renungkan sebagai lambang penghambaan yang utuh, seolah seluruh hidupmu dipusatkan hanya kepada Allah.
Rahasia di Balik Putaran Tawaf Berlawanan Arah Jarum Jam
Secara syariat, arah ini telah ditetapkan sejak zaman Rasulullah dan menjadi bagian dari tuntunan ibadah. Artinya, kamu melakukannya sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah.
Secara simbolik, gerakan berlawanan arah jarum jam membuat Ka’bah selalu berada di sebelah kiri kamu, tepat di sisi tempat jantung berada.
Kedekatan posisi ini sering dimaknai sebagai pengingat bahwa pusat hidup, niat, dan cinta kamu seharusnya selalu tertuju kepada Allah.
Seolah setiap langkah yang kamu ayunkan dalam tawaf adalah upaya untuk mendekatkan hati sedekat mungkin kepada-Nya.
Menariknya lagi, banyak fenomena di alam semesta bergerak dalam pola melingkar yang teratur dan harmonis. Pergerakan benda langit, orbit, serta sistem yang berputar pada porosnya sering dipandang sebagai tanda keteraturan ciptaan Allah.
Tawaf pun menjadi gambaran kecil dari harmoni tersebut, di mana setiap gerakan memiliki pusat yang sama.
Penutup
Pada akhirnya, tawaf bukan sekadar tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, tetapi perjalanan hati untuk kembali memusatkan hidupmu kepada Allah.
Setiap langkah adalah bentuk ketaatan, setiap putaran adalah latihan kesabaran, dan setiap doa adalah pengakuan bahwa kamu adalah hamba yang membutuhkan-Nya.
Semoga saat kamu bertawaf, ibadahmu tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga penuh makna di dalam hati.









