7 Risiko Saat Umroh di Musim Dingin yang Perlu Diwaspadai Jamaah 

Galmare Yulia R

Jamaah perlu memahami risiko saat umroh di musim dingin

Umroh di periode musim dingin, seperti umroh November dan umroh Desember, menjadi pilihan banyak jamaah. 

Selain bertepatan dengan musim liburan akhir tahun, cuaca di Arab Saudi pada periode ini juga cenderung lebih sejuk. Bahkan, suhu udara di Madinah dapat turun hingga di bawah 10°C pada malam dan dini hari.

Namun, perlu diwaspadai bahwa perubahan suhu yang cukup ekstrem tersebut dapat menimbulkan berbagai tantangan bagi jamaah. 

Oleh karena itu, penting untuk memahami berbagai risiko saat umroh di musim dingin serta cara mengantisipasinya agar perjalanan ke Tanah Suci dapat berlangsung dengan lebih aman.

1. Rentan Mengalami Flu dan Batuk

Udara dingin dan kering selama musim dingin dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Selain itu, suhu yang rendah juga membuat virus lebih mudah menyebar, terutama di area yang dipadati jamaah dari berbagai negara.

Akibatnya, flu, batuk, sinusitis, hingga radang tenggorokan menjadi keluhan yang cukup sering dialami selama umroh. 

Bagi jamaah yang memiliki riwayat asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), udara dingin juga dapat memicu kekambuhan gejala.

Baca Juga: Daftar Perlengkapan Umroh untuk Wanita & Pria, Paling Lengkap!

Sebagai langkah pencegahan, jaga kondisi tubuh dengan pola makan yang baik dan istirahat yang cukup. 

Masker, jaket hangat, serta obat-obatan pribadi juga sebaiknya selalu disiapkan untuk membantu menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah umroh. 

2. Kulit Menjadi Kering, Pecah-pecah, dan Mimisan

Kelembapan udara di Tanah Suci saat musim dingin cenderung sangat rendah dibandingkan dengan yang biasa dirasakan di Indonesia. Kondisi ini membuat kulit dan saluran hidung kehilangan kelembaban alaminya lebih cepat.

Akibatnya, jamaah dapat mengalami kulit kasar, bibir pecah-pecah, hingga tumit yang kering dan retak. Tidak hanya itu, pembuluh darah kecil di dalam hidung yang mengering juga lebih rentan pecah sehingga dapat menyebabkan mimisan.

Untuk mengantisipasinya, bawalah lip balm dan pelembab kulit seperti body lotion atau petroleum jelly, lalu gunakan secara berkala. 

Jika hendak digunakan saat ihram, pastikan produk yang dipilih bebas pewangi (fragrance-free). Selain itu, perbanyak konsumsi air putih untuk membantu menjaga kelembaban tubuh selama menjalankan ibadah umroh.

3. Risiko Dehidrasi Tetap Ada

Banyak orang mengira dehidrasi hanya terjadi saat cuaca panas. Padahal, risiko saat umroh di musim dingin yang sering tidak disadari adalah berkurangnya asupan cairan karena rasa haus cenderung tidak terlalu terasa.

Di sisi lain, aktivitas ibadah yang cukup padat tetap dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan. Jika tidak diimbangi dengan asupan yang memadai, kondisi ini dapat memicu kelelahan, pusing, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius.

Karena itu, jangan menunggu haus untuk minum. Usahakan tetap mengonsumsi air zamzam atau air putih sekitar 2–3 liter per hari meskipun cuaca terasa sejuk. 

Batasi konsumsi teh dan kopi secara berlebihan karena minuman tersebut bersifat diuretik, yaitu dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga tubuh lebih cepat kehilangan cairan.

jadwal umroh

4. Hipotermia (Kedinginan Ekstrem) 

Banyak jamaah mengira Arab Saudi selalu memiliki cuaca panas sehingga tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi suhu dingin pada malam dan dini hari. 

Padahal, angin yang cukup kencang serta suhu yang rendah, terutama di Madinah, dapat membuat tubuh kehilangan panas lebih cepat.

Dalam kondisi tertentu, paparan suhu dingin yang berkepanjangan dapat menyebabkan hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah batas normal. 

Gejalanya meliputi menggigil hebat, tubuh terasa lemas, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan kesadaran. Risiko ini umumnya lebih tinggi pada jamaah lansia dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Untuk mengantisipasinya, gunakan pakaian berlapis (layering) agar tubuh tetap hangat. Selain itu, bawalah kaus kaki tebal, syal, atau perlengkapan hangat lainnya untuk digunakan saat beristirahat maupun beraktivitas di luar ruangan pada malam hari.

5. Kelelahan Akibat Cuaca Dingin

Cuaca dingin membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal. Di sisi lain, rangkaian aktivitas ibadah seperti tawaf, sa’i, ziarah, dan berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh juga membutuhkan energi yang tidak sedikit.

Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menyebabkan sebagian jamaah lebih cepat merasa lelah, terutama lansia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. 

Baca Juga: Biar Tetap Fit di Tanah Suci, Ini Persiapan Fisik Sebelum Umroh

Jika tidak dikelola dengan baik, kelelahan dapat mengurangi kenyamanan selama menjalankan ibadah.

Untuk menjaga stamina, pastikan tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta memenuhi kebutuhan cairan harian. 

Hindari memaksakan diri beraktivitas di luar kemampuan fisik agar kondisi tubuh tetap prima selama berada di Tanah Suci.

6. Risiko Nyeri Otot dan Sendi

Bagi jamaah lanjut usia atau yang memiliki riwayat masalah persendian, cuaca dingin dapat memicu rasa tidak nyaman pada otot dan sendi. 

Suhu yang rendah membuat pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah menjadi kurang lancar, yang pada akhirnya dapat menyebabkan otot terasa lebih kaku dan persendian lebih mudah nyeri.

Kondisi ini sering dirasakan pada area lutut, betis, hingga pergelangan kaki, terutama setelah berjalan cukup jauh untuk menjalankan tawaf, sa’i, maupun aktivitas ziarah. Akibatnya, kenyamanan dan fokus selama beribadah dapat berkurang.

Untuk mengurangi risiko saat umroh di musim dingin yang satu ini, gunakan pakaian hangat yang memadai dan lakukan peregangan ringan sebelum memulai aktivitas. 

Kamu juga dapat membawa koyo, balsam, atau minyak urut untuk membantu meredakan pegal dan nyeri otot setelah beraktivitas seharian.

7. Hujan dan Cuaca Tidak Menentu

Meskipun Arab Saudi dikenal sebagai negara beriklim kering, hujan tetap dapat terjadi selama musim dingin. Dalam beberapa kondisi, hujan turun cukup deras disertai angin yang membuat suhu terasa lebih dingin dan aktivitas di luar ruangan menjadi kurang nyaman.

Saat hujan, lantai marmer di area luar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dapat menjadi sangat licin. Kondisi ini meningkatkan risiko terpeleset dan terjatuh, terutama bagi jamaah lanjut usia atau mereka yang memiliki mobilitas terbatas.

Di beberapa lokasi di Mekkah maupun Madinah, hujan lebat juga dapat menimbulkan genangan air yang menghambat akses transportasi dari hotel menuju masjid atau tempat tujuan lainnya. 

Bagi jamaah yang memiliki jadwal ziarah atau perjalanan antarkota, perubahan cuaca tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran aktivitas selama berada di Tanah Suci.

Karena itu, sebaiknya selalu memantau prakiraan cuaca sebelum beraktivitas dan menyiapkan perlengkapan sederhana seperti payung lipat atau jas hujan ringan sebagai langkah antisipasi.

Penutup

Musim dingin menjadi salah satu periode favorit untuk menjalankan ibadah umroh karena cuacanya yang lebih sejuk dibandingkan musim panas. 

Meski begitu, terdapat sejumlah risiko saat umroh di musim dingin yang perlu diwaspadai, seperti flu, dehidrasi, kulit kering, hingga nyeri sendi.

Oleh karena itu, jamaah perlu mempersiapkan diri dengan baik agar berbagai tantangan tersebut tidak mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan selama beribadah di Tanah Suci.

Dengan persiapan yang tepat, umroh pada musim dingin, termasuk saat libur akhir tahun, tetap dapat menjadi pengalaman ibadah yang nyaman dan berkesan. 

Jika berencana berangkat umroh, Annisa Travel menyediakan berbagai pilihan paket umroh dengan pendampingan yang dapat membantu mempersiapkan perjalanan dengan lebih optimal. 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi tim Annisa Travel melalui WhatsApp di 0811 356 7777.

Bagikan:

Diskon Spesial Milad Annisa

Tags

Galmare Yulia R

A passionate storyteller who loves creating words that inform and inspire.

Leave a Comment