Apa Itu Saqifah Bani Saidah? Ini Sejarah dan Peristiwa di Baliknya 

Galmare Yulia R

Tampak luar Saqifah Bani Sa’idah

Saqifah Bani Saidah merupakan lokasi bersejarah di Madinah yang menjadi saksi salah satu momen paling krusial dalam perjalanan Islam. 

Di tempat inilah para sahabat berkumpul sesaat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW untuk bermusyawarah menentukan pemimpin umat Islam selanjutnya.

Musyawarah tersebut tidak hanya memengaruhi arah kepemimpinan umat Islam setelah masa kenabian, tetapi juga menjadi awal terbentuknya sistem kekhalifahan dalam sejarah Islam. 

Berikut ulasan lengkap mengenai sejarah dan peristiwa di balik Saqifah Bani Saidah.

Mengenal Saqifah Bani Saidah

Secara etimologi, saqifah berarti bangunan beratap atau bangsal yang digunakan sebagai tempat berkumpul atau berteduh. 

Pada masa itu, saqifah biasanya berupa tempat terbuka yang luas, dengan atap dari ranting pohon atau daun kurma, serta dikelilingi tembok di tiga sisi dan terbuka di satu sisi lainnya.

Baca Juga: Masjid Qiblatain di Madinah, Tempat Bersejarah Perubahan Kiblat 

Sementara itu, Bani Saidah merujuk pada salah satu klan dari suku Khazraj yang tinggal di Madinah.

Saqifah Bani Saidah pada awalnya merupakan lahan pertanian milik Bani Sa’idah bin Ka’b Al-Khazraji. 

Di kawasan ini terdapat rumah-rumah yang saling berdampingan, dihuni oleh anggota suku Bani Sa’idah di tengah area kebun, serta sebuah sumur yang menjadi sumber air utama.

Pada masa awal Islam, Saqifah Bani Saidah berfungsi sebagai balai pertemuan bagi masyarakat lokal Madinah, khususnya kaum Anshar, untuk membahas berbagai urusan sosial dan kemasyarakatan.

Seiring berjalannya waktu, lokasi ini memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan umat Islam. 

Saat ini, area Saqifah Bani Saidah telah dipugar dan menjadi bagian dari kawasan hijau di sekitar Masjid Nabawi, tepatnya di sisi barat laut. 

Lokasinya berada sekitar 300 meter dari Pintu King Fahd sehingga mudah dijangkau dengan berjalan kaki oleh para peziarah.

Umroh Private

Latar Belakang Peristiwa 

Ketika Nabi Muhammad SAW wafat pada tahun 11 Hijriah (632 M), umat Islam diliputi duka mendalam sekaligus kebingungan mengenai siapa yang akan memimpin pemerintahan setelah beliau. 

Nabi tidak meninggalkan wasiat tertulis yang secara eksplisit menunjuk pengganti sebagai kepala negara.

Hal ini membuat umat Islam di Madinah berada dalam situasi yang cukup krusial. Dua kelompok besar yang memiliki peran penting dalam perkembangan Islam, yaitu kaum Anshar (penduduk asli Madinah) dan kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah), sama-sama memiliki pandangan terkait kepemimpinan umat.

Dalam kondisi tersebut, kaum Anshar kemudian berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membahas siapa yang akan memimpin umat Islam selanjutnya. Mereka merasa bertanggung jawab untuk segera menentukan pemimpin agar stabilitas Madinah tetap terjaga.

Namun, pertemuan ini kemudian berkembang menjadi titik awal diskusi besar yang melibatkan para sahabat utama dari kaum Muhajirin.

Kronologi Musyawarah di Saqifah Bani Saidah

Ketika kabar pertemuan di Saqifah Bani Saidah sampai kepada para sahabat dari kaum Muhajirin, beberapa tokoh penting segera datang ke lokasi. Di antaranya adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah.

Di tempat tersebut, terjadi dialog dan musyawarah yang cukup panjang antara kaum Anshar dan Muhajirin. Masing-masing pihak menyampaikan pandangan mengenai siapa yang paling layak memimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Kolam di Saqifah Bani Sa’idah

1. Usulan Kaum Anshar

Kaum Anshar pada awalnya mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat Islam. Mereka merasa memiliki hak untuk memimpin karena telah berjasa besar dalam menolong Nabi Muhammad SAW serta melindungi umat Islam di Madinah.

2. Pandangan Kaum Muhajirin

Sebagai respon, Abu Bakar as-Siddiq menyampaikan pandangan dengan penuh kebijaksanaan bahwa bangsa Arab pada saat itu cenderung mengakui kepemimpinan dari suku Quraisy. Menurutnya, hal ini dapat menjadi faktor penting untuk menjaga persatuan umat Islam yang terdiri dari berbagai suku.

3. Usulan Pembagian Kepemimpinan

Dalam proses musyawarah tersebut, sempat muncul usulan agar kepemimpinan dibagi menjadi dua, yaitu satu pemimpin dari kaum Anshar dan satu dari kaum Muhajirin. Namun, gagasan ini ditolak oleh Umar bin Khattab karena dinilai berpotensi memecah belah kesatuan umat Islam.

4. Pembaiatan Abu Bakar

Setelah melalui musyawarah yang cukup panjang, Umar bin Khattab mengambil inisiatif untuk membaiat Abu Bakr as-Siddiq sebagai pemimpin umat Islam. 

Keputusan ini kemudian diikuti oleh para sahabat lainnya, termasuk Abu Ubaidah dan tokoh-tokoh Anshar yang hadir.

Abu Bakar dipilih karena dikenal sebagai sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, berasal dari suku Quraisy yang dihormati, serta dinilai mampu menjaga persatuan umat Islam. 

Dari musyawarah tersebut, akhirnya tercapai kesepakatan untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pertama umat Islam.

Dampak dan Signifikansi Sejarah

1. Awal Berdirinya Sistem Kekhalifahan

Terpilihnya Abu Bakar as-Siddiq menandai dimulainya era Khulafaur Rasyidin, yaitu masa kepemimpinan empat khalifah pertama dalam Islam. 

Dari sinilah sistem kekhalifahan mulai terbentuk sebagai model pemerintahan umat Islam setelah berakhirnya masa kenabian.

Baca Juga: Menyusuri Kebun Kurma Madinah, Dari Jejak Sejarah hingga Pengalaman Berkesan 

Sistem ini kemudian diteruskan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang dikenal memiliki peran besar dalam penyebaran serta perkembangan peradaban Islam.

2. Menjaga Persatuan Umat Islam

Keputusan yang dihasilkan dalam musyawarah di Saqifah Bani S’idah juga berperan penting dalam menjaga stabilitas umat Islam. 

Pada masa itu, wafatnya Nabi Muhammad SAW berpotensi memunculkan konflik antarsuku maupun perpecahan politik akibat kekosongan kepemimpinan.

Dengan adanya kesepakatan untuk segera memilih khalifah, umat Islam dapat tetap bersatu dan menghindari perselisihan yang lebih besar di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

3. Menjadi Contoh Tradisi Musyawarah dalam Islam

Peristiwa Saqifah Bani Saidah juga sering dipandang sebagai salah satu contoh awal penerapan prinsip musyawarah atau syura dalam Islam. 

Para sahabat berkumpul untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mencari solusi terbaik bagi kepentingan umat bersama.

Tradisi musyawarah ini kemudian menjadi salah satu nilai penting dalam praktik kepemimpinan dan pemerintahan Islam pada masa-masa berikutnya.

Penutup

Hingga saat ini, Saqifah Bani Saidah tetap menjadi salah satu situs bersejarah yang dihormati dalam perjalanan Islam. 

Tempat ini mengingatkan umat Muslim akan pentingnya persatuan, musyawarah, dan kebijaksanaan para sahabat Nabi dalam menghadapi situasi besar setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Bagi para peziarah yang berkunjung ke Madinah, kawasan ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana awal sejarah kepemimpinan Islam terbentuk melalui proses musyawarah yang penuh tanggung jawab.

Bagikan:

Diskon Spesial Milad Annisa

Tags

Galmare Yulia R

A passionate storyteller who loves creating words that inform and inspire.

Leave a Comment