Sejarah Jeddah: Pintu Gerbang Menuju Tanah Suci

Fitria Zahrah

Jeddah adalah sebuah kota yang berdenyut di pesisir Laut Merah yang memiliki sejarah panjang sebagai pintu gerbang menuju Tanah Suci, Makkah dan Madinah.

Kota ini tidak hanya menjadi titik awal perjalanan bagi jutaan peziarah setiap tahunnya, tetapi juga menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang mengagumkan.

Awal Mula Jeddah

Didirikan sekitar 2500 tahun yang lalu, Jeddah awalnya hanya sebuah kawasan persinggahan yang dipakai sebagai tempat istirahat bagi para nelayan selepas melaut.

Namun, dengan berkembangnya jalur perdagangan dan keagamaan, Jeddah bertransformasi menjadi kota pelabuhan utama.

Khalifah Utsman bin Affan adalah tokoh penting yang memajukan kota Jeddah.

Pada tahun 648 M, ia menetapkan kota ini sebagai pelabuhan utama bagi calon jamaah haji yang hendak menuju Makkah, terutama bagi mereka yang menyeberangi Laut Merah untuk mencapai Jazirah Arab.

Baca Juga: Cegah MERS-CoV Selama Haji: Jangan Dekati Unta!

Kedatangan para calon haji tidak hanya membawa banyak orang ke Makkah dan Madinah, tetapi juga secara signifikan memajukan perekonomian Jeddah.

Aktivitas perdagangan di kota ini berkembang pesat berkat kehadiran para peziarah.

Berbagai jenis pekerjaan muncul akibat aktifnya perdagangan antarwilayah dan interaksi antarbudaya di Jeddah.

Non-Muslim yang ingin berinteraksi dengan warga Arab namun tidak dapat memasuki Makkah memilih untuk menetap di Jeddah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Jeddah dahulu dikenal sebagai Balad Al-Qanasil atau Kota Konsulat, karena banyaknya konsulat dari berbagai negara asing yang berdiri di kota ini.

Keunikan Kota Jeddah

Berbeda dengan Makkah yang relatif homogen (karena hanya umat Muslim yang diizinkan memasukinya), Jeddah telah menjadi kota yang sangat kosmopolitan sejak awal perkembangannya.

Sebagai kota pelabuhan, Jeddah terbuka bagi kapal-kapal dari berbagai wilayah dengan budaya dan keyakinan yang berbeda dari Makkah, pusat Jazirah Arab.

Berbagai jenis pekerjaan muncul akibat aktifnya perdagangan antarwilayah dan interaksi antarbudaya di Jeddah.

Non-Muslim yang ingin berinteraksi dengan warga Arab namun tidak dapat memasuki Makkah memilih untuk menetap di Jeddah.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Jeddah dahulu dikenal sebagai Balad Al-Qanasil atau Kota Konsulat, karena banyaknya konsulat dari berbagai negara asing yang berdiri di kota ini.

Dalam perjalanan ibadah ini, Annisa Travel hadir sebagai mitra perjalanan yang dapat diandalkan.

Annisa Travel menawarkan paket perjalanan haji dan umroh yang dirancang khusus untuk memastikan kenyamanan dan kelancaran ibadah Anda.

Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam melayani jamaah, Annisa Travel memahami kebutuhan para peziarah dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik.

Paket perjalanan yang ditawarkan Annisa Travel mencakup akomodasi yang nyaman, transportasi yang aman, serta bimbingan ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariat.

Dengan Annisa Travel, Anda dapat menikmati perjalanan spiritual tanpa perlu khawatir tentang detail teknis perjalanan, sehingga Anda dapat fokus pada ibadah dengan khusyuk.

Yuk, segera rencanakan perjalanan haji dan umroh Anda bersama Annisa Travel, dan nikmati pengalaman ibadah yang tak terlupakan di Jeddah, pintu gerbang menuju Tanah Suci.

Bagikan:

Tags

Fitria Zahrah

Annisa News - Copy Writer

1 thought on “Sejarah Jeddah: Pintu Gerbang Menuju Tanah Suci”

  1. Pingback: Ibadah Haji Musim Panas Bakal Berakhir Tahun 2025!

Leave a Comment